Digitalisasi, Restorasi dan Pengelolaan Arsip Film: Tidak Hanya Menyelamatkan, Tetapi Juga Memasyarakat Film

Yogyakarta, Maret 2018. Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kemendikbud RI  beserta beberapa pemangku kepentingan seperti peneliti, dosen dan sineas perfilman mengadakan penyusunan Rekomendasi Teknis Digitalisasi, Restorasi dan Pengelolaan Arsip Film di Hotel Neo Awana Yogyakarta.

Penyusunan tersebut dilakukan atas gagasan untuk melestarikan ingatan kolektif mengenai—salah satunya—budaya masyarakat lewat film-film yang diproduksi di masa-masa tertentu. Seperti yang telah diketahui, film juga bisa digunakan sebagai pencatat sejarah, nilai dan bahkan kekayaan intelektual budaya.  Sayangnya, beberapa film itu telah mengalami kerusakan secara teknis sehingga sulit diakses masyarakat luas.

Oleh karena itu, restorasi film yang sebenarnya sudah diinisiasi di dunia sejak tahun 1930an sangat diperlukan. Restorasi film adalah pemulihan karya dari kondisi tua dan rusak menjadi sedekat mungkin dengan kondisi awalnya yang baik. Indonesia termasuk negara yang relatif baru mengerjakan restorasi terhadap film-filmnya. Pusbangfilm Kemendikbud RI sendiri telah menginisiasi proyek film sejak tahun 2017 dengan film “Pagar Kawat Berduri”-nya. Sebelumnya Ditjen Kebudayaan juga pernah merestorasi film “Darah dan Doa.”

Tidak hanya restorasi, beberapa film juga membutuhkan proses digitalisasi—suatu proses perubahan sistem komunikasi dari teknologi analog ke digital—untuk memudahkan penyimpanan dan distribusi ke khalayak luas. Meskipun demikian, film-film yang mengalami proses restorasi dan/ atau digitalisasi juga butuh disimpan melalui proses pengarsipan film yang terstruktur dan baik untuk selanjutnya dapat dengan mudah diakses masyarakat luas.

Anton Rozali Muhtar, selaku Kepala Subbidang  Pengarsipan Film dalam sambutannya pada acara pembukaan Penyusunan Rekomendasi  20 Maret 2018 tersebut mengatakan, “Penyusunan rekomendasi teknis digitalisasi, restorasi dan pengelolaan arsip film ini diharapkan dapat menghasilkan keluaran yang memiliki kemanfaatan secara luas untuk pertumbuhan industri film, pembelajaran masyarakan dan kebudayaan secara umum.”

Dalam acara yang berlangsung dari 20 hingga 22 Maret 2018 tersebut, Pusbangfilm Kemendikbud RI mengharapkan berbagai pihak untuk menyumbangkan ide dan gagasan dalam panduan rekomendasi teknis untuk melakukan restorasi, digitalisasi dan pengarsipan film. 

Tiarma Rita Siregar, yang sebelumnya terlibat langsung dalam proses restorasi film Pagar Kawat Berduri mengatakan bahwa rekomendasi teknis bukan bermuara pada pemilihan judul-judul film yang layak mendapatkan restorasi atau digitalisai. Output dari dalam penyusunan ini adalah penyusunan kriteria film yang layak mendapatkan restorasi atau digitalisasi.

Chris Woodrich salah satu peserta diskusi panel yang merupakan peneliti dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengatakan, “Fokus dari diskusi betul harus menemukan kriteria. Tapi kita bisa merujuk pada judul yang ada di Sinematek. Jangan sampai merekomendasikan judul-judul film yang arsipnya sudah tidak ada di dunia ini.”

Meskipun demikian, film-film yang dijadikan rujukan untuk mengalami proses restorasi atau digitalisasi tidak hanya berasal dari Sinematek. “Jadi ada berbagai judul film di luar Sinematek yang bisa direstorasi, seperti misalnya film-film di PFN atau komunitas-komunitas pecinta film di Indonesia,” ungkap Budi Sumarno dari Sinematek Indonesia.

Sedangkan dalam pengelolaan arsip, Budi Sumarno berpendapat bahwa arsip seperti foto-foto pembuatan film dan poster-poster film yang pengelolaannya belum baik perlu diperhatikan.” Jadi, tidak hanya filmnya saja tapi juga berbagai unsur yang berkaitan dengannya,” ungkapnya.

Woodrich menambahkan bahwa poster dan segala yang berkaitan dengan film (seperti iklan atau publikasi lainnya), sebaiknya direkomendasikan untuk dikelola arsipnya. Karena itu sangat berpengaruh dalam penyampaian pesan ke masyarakat luas mengingat tujuan dari restorasi, digitalisasi dan pengarsipan film tidak hanya menyelamatkan, tapi juga memasyarakat film.  (CN)