Anugerah Budaya Maritim 2017: Membangun Budaya Maritim Indonesia Lewat Film

Jakarta, Pusbangfilm – Malam Anugerah Budaya Maritim 2017 yang merupakan rangkain dari Festival Film Pendek Kemaritiman & Festival Film Dokumenter Pelajar 2017 dilaksanakan kemarin Selasa 5 Desember 2017 di Plaza Insan Berprestasi Gedung A Kompleks Kemendikbud. Kegiatan ini merupakan upaya kerja sama antara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Malam Anugerah dijadikan momen untuk mengumumkan pemenang Festival Film Pendek Kemaritiman & Festival Film Dokumenter Pelajar 2017. Dalam festival tersebut, para peserta yang terdiri dari kalangan pelajar dan masyarakat umum mengirimkan proposal film dan memproduksi film dengan pilihan tema yang antara lain adalah: Potensi Kemaritiman Indonesia (sub tema: Sejarah dan Dinamika Kemaritiman, Keindahan Alam Laut dan Pesisir, Keunikan Budaya dan Kehidupan Masyarakat yang Berkaitan Dengan Laut dan Pesisir Indonesia); dan Selamatkan Laut Indonesia (sub tema: Pelestarian Alam, Pemanfaatan Laut dan Lingkungannya dan Upaya Penyelamatan Laut Indonesia).

Adapun dari 102 proposal, terpilihlah 20 proposal yang diikutkan dalam workshop praproduksi film dan pendampingan produksi film. Seluruh kegiatan workshop itu difasilitasi oleh Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kemendikbud. Kemudian, dari 20 film, terpilihlah 10 nominasi judul film dokumenter yang dikirimkan peserta melalui Pusat Pengembangan Perfilman, yang di antaranya adalah: Tukik, Tarek Pukat (Surga Ikan Menawan Ujong Blang), Sewa, Petani Garam Terakhir, Penggerak Menganti, Pelaut Terakhir, Pecalang Segara, Keindahan yang Dipetik, Demokrasi Akar Rumput, dan Akar Sebuah Rasa. Dalam Festival Film Dokumenter Pelajar 2017 ini, dan malam nanti akan diumumkan 3 film dokumenter terbaik.

Untuk 10 Finalis Film Pendek Kemaritiman yang akan memperebutkan piala Festival Film Pendek Kemaritiman di antaranya aladah: M. Yusuf, Indonesia-A Maritime Heaven in Equator; Studio Amarana, Pemburu Dongeng; 3Rushdy Karim, Pinisi Bagi Negeri; SMK An Nurmaniyah, Lautan Penuh Harapan; Muhammad Kurniawan, Pahlawan Konservasi (Hari ini Untuk Esok Nanti); SD An Nisa, Cita-citaku; Rohmat Kuslarsono, Mangrove Birth; Syabarudin Ismail dkk., Kalase; BP2IP Malahayati Aceh, Nahkoda dari Ujung Barat; 10. Herman Harsoyo, Transplantasi Terumbu Karang.

Isu lingkungan dan budaya maritim dalam film

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang hadir dan memberikan penghargaan kepada para pemenang Anugerah Budaya Maritim 2017 mengatakan bahwa, kegiatantersebut merupakan kegiatan pengembangan dari salah satu misi Kabinet Kerja, yaitu menjadikan Indonesia berjaya di Bidang Maritim dan penguasa samudra.

Lewat film, Mendikbud berharap bahwa salah satu isu kemaritiman yakni keindahan dan kebersihan lingkungan maritim dapat diangkat oleh para sineas muda. Salah satu isu yang diangkat oleh para peserta dalam festival film ini adalah isu sampah dan keindahan lingkungan.

“Jika lihat dari timur ke barat, persoalan yang sangat krusial adalah mengenai sampah terutama sampah plastik. Di Lampung ada pantai yang sampahnya menumpuk di pantai hingga satu setengah meter. Tidak bisa bayangkan bagaimana caranya jika kita ingin menjadi poros maritim dunia apabila tidak bisa mengatasi masalah sampah,” ujar Mendikbud.

Bagi Mendikbud, kemaritiman sangatlah penting, karena Indonesia perlahan-lahan akan menggeser fokusnya ke sektor pariwisata. Pertama adalah wisata budaya dan kedua adalah wisata alam. Artinya, tidak lagi migas, kekayaan budayalah yang paling diutamakan. “Indonesia menurut Direktur UNESCO adalah super power di bidang budaya karena tidak ada yang menandingi keanekaragaman budaya.”

Dua pertiga laut Indonesia adalah laut. Kemaritiman sangat penting bagi Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, budaya Indonesia sebagian besar adalah budaya kemaritiman. Bahkan tidak seperti negara-negara lain, Indonesia menjuluki dirinya sebagai tanah air karena wilayah maritim Indonesia yang cukup luas tersebut. Mendikbud yakin, jika kita mampu melihat lebih jauh dan berfokus pada bidang budaya, terutama budaya kemaritiman, kita akan menjadi negara yang patut berbangga. Fokus itu bisa dibangun melalui film dan mendidik sineas muda untuk memiliki mata yang lebih jernih lewat film dalam upaya mengangkat isu kemaritiman dan budayanya. “Film juga merupakan perpanjangan pancaindra kita. Ketika mata kita tidak menjangkau kedalaman dasar laut, melalui sebuah film kita dapat menikmati indahnya alam maritim kita yang indah luar biasa,” disampaikan Mendikbud dalam sambutannya.

Menurutnya, kegiatan kompetisi kreatif untuk menumbuhkan kecintaan pada budaya maritim sangatlah penting. Kegiatan seperti ini, menurutnya, juga sekaligus sebagai media pembelajaran bagi generasi muda, dan para pelajar, untuk berpikir kritis, dengan menjaga nasionalisme. “Saya yakin kita bisa menjadi negara ketiga yang menguasai perfilman. Saya sangat bangga dengan karya-karya sineas muda. Tidak hanya SMA, tapi bahkan ada yang sejak sekolah dasar sudah berkarya,” ujar Mendikbud

.

Sudut pandang baru dari generasi muda

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia (SDM), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), dan Budaya Maritim Kemenko Maritim, Safri Burhanuddin menjelaskan, Festival Film Pendek Kemaritiman dan Festival Film Dokumenter Pelajar 2017 digelar untuk menghidupkan kembali nuansa maritim dan menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat Indonesia akan budaya maritimnya yang pernah jaya di masa lalu. Selain itu, tujuan dari kegiatan ini salah satunya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pendidikan dan kebudayaan maritim atau bahari.

Dengan adanya festival film pendek dan film dokumenter, Kemendikbud dan Kemenko Bidang Kemaritiman berharap agar generasi muda dapat lebih cermat dan peka melihat isu kemaritiman yang ada di daerah sekitarnya. Selain itu, harapannya para sineas muda dan masyarakat mampu menggali ide kreatif, dan mengasah keterampilan dalam membuat film.

“Festival ini adalah upaya mengangkat dari sudut pandang yang berbeda. Biasanya kita melihat iklan, brosur pariwisata dan konservasi tentang keindahan laut kita. Namun, ternyata setelah melihat film-film yang masuk, masyarakat luas memiliki sudut pandang yang berbeda. “

“Para peserta dan masyarakat memiliki mata yang sangat jeli untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi di sekitarnya. Alangkah baiknya pengamatan itu bisa disampaikan lewat film pendek atau dokumenter ke khalayak agar jangkauannya lebih luas lagi,“ tambah Safri.

Kabinet Kerja berhasil meningkatkan peringkat pariwisata Indonesia di mata dunia dari peringkat 70 hingga menjadi peringkat di sekitar 30 di tahun 2017 ini. Indonesia di G20 berkomitmen mengurangi sampah plastik hingga 70% pada tahun 2025. Festival film ini merupakan salah satu upaya untuk menjadi fasilitator informasi betapa pentingnya menjaga alam dan dunia maritim yang bisa berkontribusi pada sektor pariwisata di Indonesia.

(Carisya, dok. Mahesa)