Pelatihan dan Uji Asesor Kompetensi Profesi Perfilman: Meningkatkan Profesionalisme Profesi di Bidang Perfilman

Jakarta - Berlangsung selama lima hari, Pelatihan Asesor Kompetensi dan Uji Asesor Kompetensi Profesi Perfilman yang dimulai pada 20 November 2017 lalu direncanakan akan ditutup pada 25 November 2017.

Pelatihan Asesor Kompetensi dan Uji Asesor Kompetensi Profesi Perfilman ini adalah dalam rangka menindaklanjuti kegiatan sebelumnya yang telah dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tujuan dari pelatihan ini merupakan bentuk upaya mewujudkan SDM Perfilman yang memiliki kompetensi secara terstandar. Sertifikasi yang dikeluarkan nanti memungkinkan insan perfilman pada bagian produksi film memiliki pengakuan resmi bahwa seseorang betul-betul memiliki kompetensi di bidangnya.

Selain itu, pelatihan dan uji kompetensi ini adalah bentuk dari realisasi Pasal 48 huruf a Undang-Undang nomor 33 Tahun 2009 tentang perfilman yang berbunyi, "Setiap insan perfilman berkewajiban memenuhi standar kompetensi dalam bidang perfilman" yang merupakan salah satu program utama Pusbangfilm.

Pada pelatihan dan uji kompetensi kali ini, sebanyak 25 calon asesor yang berasal dari berbagai asosiasi profesi mengikuti serangkaian kegiatan yang dimulai dari merencanakan, mengordinasi, mengembangkan perangkat asesmen hingga betul-betul mencoba mengases kompetensi.

Sebelumnya, Pusbangfilm bekerjasama dengan BPI dan beberapa pemangku kepentingan berhasil menyusun 159 okupasi area fungsi perfilman yang harus ditetapkan dalam bentuk Surat Keputusan Menteri. Dari 159 okupasi itu, terdapat beberapa area fungsi utama yang di antaranya meliputi Penyutradaraan, Penulisan Skenario, Tata Cahaya, Artistik, Manajemen Produksi, Editing, dan lain sebagainya.

(Keterangan foto: Peserta pelatihan pada hari ketiga melakukan role playing dan simulasi asesmen sebelum akhirnya di hari terakhir diuji pemahamannya selama mengikuti pelatihan)

Adapun peserta latih yang mengikuti kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta kali ini adalah mereka yang berasal dari asosiasi profesi yang tentunya sudah memiliki kompetensi di bidang kerjanya masing-masing. Asosiasi profesi yang ikut serta dalam pelatihan ini di antaranya adalah ACI (Asosiasi Casting Indonesia), IMPAct (Indonesian Montion Picture Audio Association), Kelompok Profesi Tata Suara KFT, INAFED, PARFI, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang asesor, mereka nantinya akan melakukan asesmen yang melewati berbagai proses sistematis dalam mengumpulkan bukti-bukti. Bukti-bukti yang dikumpulkan dari seorang asesi itu nantinya dijadikan acuan dalam membuat keputusan apakah seseorang telah mencapai kompetensi.

Untuk menjadi seorang asesor, peserta wajib mengikuti program pelatihan asesor kompetensi, melaksanakan minimal dua kali Asesmen Kompetensi Mandiri, dan pernah mengikuti proses penilaian yang sekaligus merupakan asesmen kompetensi yang pernah dilakukan oleh master asesor. Dalam Pelatihan dan Uji Asesor Kompetentsi kali ini, bertindak sebagai Master Asesor dari BNSP adalah Sutri Lasmini dan Imam Mudofir.

Dalam pelatihan yang dilaksanakan hampir seminggu ini, asesor nanti akan melakukan uji coba atau simulasi asesmen kompetensi. Nantinya, asesor dapat memberikan rekomendasi untuk mendapatkan sertifikasi terhadap siapapun yang bergerak di bidang perfilman dan merasa memiliki kompetensi di bidang perfilman. Satu hal yang juga perlu digarisbawahi untuk menjadi asesor kompetensi adalah seorang asesor harus bebas dari kepentingan apapun yang dapat memengaruhi penilaian atau membuat penilaian yang memihak.

Setelah mengikuti pelatihan, peserta latih diharapkan mampu melakukan proses asesmen kompetensi terhadap peserta sertifikasi berdasarkan tugas yang diberikan oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) atau BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).

Koordinator pelatihan dan uji kompetensi yang juga merupakan Ketua Bidang Organisasi dan Jaringan BPI, Gunawan Paggaru mengatakan, “Pelatihan dan Uji Kompetensi ini adalah suatu niat baik dari Pusbangfilm dalam pengembangan perfilman Indonesia.” Gunawan menambahkan bahwa rencananya, pelatihan serupa akan dilaksanakan hingga dua atau tiga kali lagi guna mendapatkan asesor yang sudah terkualifikasi dalam jumlah yang memadai. (Carisya N.)