Pemutaran Film Oligarki Televisi di Perpustakaan Kemdikbud

Film Oligarki Televisi yang diperankan oleh aktor kawakan Pong Harjatmo ini merupakan bentuk kritik keras bagi pertelevisian Indonesia. Film berdurasi enam puluh menit ini mengunggah kekhawatiran masyarakat tentang berbagai tayangan di televisi yang tidak mendidik dan bahkan mungkin menjerumuskan penontonnya kepada sesat pikir.

Sekitar 25 orang dari berbagai latar belakang seperti Komunitas Trotoar, Institusi, hingga Ditjen Paud dan Diknas sengaja datang ke Studio Mini Perpus Kemendikbud pukul sepuluh pagi tadi. Mereka tidak hanya menonton tapi juga ikut berdiskusi tentang film dan menanggapi berbagai aksi protes yang disuarakan melalui film Oligarki Televisi pada 11 Juli 2017. Pemutaran dan diskusi film ini diselenggarakan oleh Komunitas Komunikatif dan komunitas perfilman lainnya bertempat di studio mini Perpustakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sutradara Oligarki Televisi, Erlan Basri dan R. Kristiawan mengungkapkan keperihatinannya terhadap industri pertelevisian dalam pemutaran dan diskusi tersebut. Berbagai fakta dipaparkan secara nyata seperti hanya segelintir orang (yakni hanya 12 orang saja) yang menguasai sekitar 200 stasiun lokal swasta lokal maupun nasional. Oleh karena itu, tidak aneh jika independensi media dipertanyakan. Acara bahkan berita yang tayang di televisi-televisi Indonesia selalu memiliki keberpihakan tertentu. Dan yang lebih menyedihkan adalah, keberpihakan itu adalah keberpihakan kepada pemilik kapital yang hanya memikirkan profit semata. Film itu juga mengangkat protes terhadap lembaga pemerintah seperti KPI yang tidak mampu mengatur penyiaran di Indonesia dan sebagainya.

Selain masalah independensi pertelevisian, Oligarki Televisi yang sebenarnya pertama kali tayang pada 2014 ini juga mengangkat cerita-cerita perjuangan dari berbagai segilintir komunitas masyarakat dari komunitas yang terdiri anak-anak, ibu-ibu, mahasiswa hingga mantan awak media yang berusaha memperjuangkan literasi media di masyarakat luas. Komunitas yang diangkat dalam film dokumenter ini adalah Komunitas Kalamtara, Komunitas Masyarakat Peduli Media (MPM), hingga Komunitas TV Grabag Magelang. Literasi media memungkinkan para penonton untuk dapat memilah dan memilih tayangan mana yang baik untuk dikonsumsi dan mana yang justru meracuni. Meskipun demikian, Erlan Basri dan R. Kristiawan mengungkapkan rasa optimisme jika suatu saat nanti dunia pertelivisian Indonesia akan jauh lebih baik.

Penulis: Carisya N. Editor: Marlina Yulianty