Pusbangfilm dan KBRI Sofia Menyelenggarakan Indonesian Film Panorama di IFF 2017 di Varna, Bulgaria

Tahun ini ada yang istimewa di International Film Festival (IFF) Love is Folly, karena Indonesia mendapat sesi khusus yaitu Indonesian Film Panorama (Focus on Indonesia Cinema) yang akan memutarkan 6 judul film Indonesia. Indonesian Film Panorama terselenggara atas kerja sama Pusat Pengembangan Perfilman (melalui kegiatan Pekan Film Indonesia di Luar Negeri) dengan KBRI Sofia dan panita IFF Love is Folly.

Indonesian Film Panorama (Focus on Indonesian Cinema) sebagai bagian dari rangkaian IFF is Folly tersebut resmi dibuka oleh Dubes RI untuk Bulgaria, Albania dan Makedonia pada tanggal 26 Agustus 2017. Sebanyak 6 judul film Indonesia diputar pada program ini.

Film-film yang ditayangkan dalam Indonesian Film Panorama antara lain: Salawaku, Istirahatlah Kata-Kata (khusus kategori kompetisi), Nokas, Athirah, Emma, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

Film Salawaku, yang menjadi film pembuka dalam Indonesian Panorama (Focus on Indonesian Cinema) dihadiri langsung oleh pemain filmnya, yaitu Karina Salim. Film ini memukau para penonton Indonesian Panorama pada IFF Love is Folly yang terselenggara atas kerja sama antara KBRI Sofia dan Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Konferensi Pers Indonesian Panorama (Focus on Indonesian Cinema) dalam rangkaian International Film Festival Love is Folly digelar pada tanggal 27 Agustus 2017 di Varna Congress Center. Sejumlah jurnalis dan kritikus film hadir dalam kesempatan tersebut.

Sekar Ayu Asmara (kurator film), Karina Salim (pemain film Salawaku) dan Prima Duria (Kasubbid Fasilitasi Pengembangan Pusbangfilm) mewakili delegasi Indonesia bersama dengan Nurul Sofia (Pensosbud KBRI Sofia) dalam konferensi pers tersebut.

Indonesian Film Panorama - IFF Love is Folly ini berlangsung di Varna, Bulgaria, tanggal 26 Agustus - 3 September 2017. Festival film ini juga diselenggarakan secara parallel atau berbarengan dengan Indonesia Film Week (IFW) di Beograd, Serbia, tanggal 28 Agustus - 3 September 2017. Indonesia Film Week terselenggara atas kerja sama antara Pusbangfilm Kemendikbud RI dengan KBRI Beograd.

Beberapa film yang diputar di Beograd Serbia antara lain Salawaku, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara, Mirror Never Lies, Ketika Bung di Ende, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Darah dan Doa, Mencari Hilal dan Panji Semirang. Dua di antara film tersebut, yakni Ketika Bung di Ende dan Panji Semirang adalah film hasil fasilitasi produksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Rombongan delegasi Indonesia yang memakai pakaian khas Indonesia dan diiringi musik khas Bali disambut meriah. Karina Salim sebagai wakil artis Indonesia yang tampil mengenakan kebaya rancangan Anne Avantie menjadi sorotan awak media dan masyarakat lokal yang bergiliran minta foto bersama. Keberangkatan delegasi Indonesia ke Varna Bulgaria dipimpin oleh Ibu Prima Duria (Kasubbid Fasilitasi Pengembangan Perfilman).

Karena acara IFF 2017 dan IFW 2017 berlangsung bersamaan, fombongan delegasi Indonesia tersebut dibagi menjadi dua kelompok: sebagian berada di Varna, Bulgaria dan sebagian lagi berangkat ke Beograd, Serbia sampai 30 Agustus 2017 . Pada 31 Agustus 2017, kedua rombongan bertemu kembali di Bulgaria untuk kembali ke Indonesia bersama-sama. (NN/CN)

Delegasi Indonesia foto bersama sesaat setelah arak-arakan yang diiringi musik khas Bali melewati Red Carpet IFF Love is Folly

Delegasi Indonesia bersama Ibu Dubes RI, H. E. Sri Astari Rasyid.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Dubes RI Sofia menjelang Red Carpet (Opening Ceremony) International Film Festival Love is Folly di Varna Congress Center, Bulgaria, tanggal 25 Agustus 2017

Sekar Ayu Asmara, seniman dan kurator film Indonesia, diwawancara oleh Bulgarian National Television

Konferensi Pers Indonesian Panorama (Focus on Indonesian Cinema) dalam rangkaian International Film Festival Love is Folly digelar pada tanggal 27 Agustus 2017 di Varna Congress Center. Sejumlah jurnalis dan kritikus film hadir dalam kesempatan tersebut.

dok: Nina Nurfalah