Workshop Perfilman di Bali dihadiri Berbagai Komunitas Film Indonesia

Workshop Perfilman Tingkat Dasar Region III tahun 2017 dilaksanakan selama enam hari, mulai tanggal 28 Juli hingga 3 Agustus 2017 di Hotel Grand Ina Bali Beach Jalan Hang Tuah Sanur Bali. Peserta Region III Workshop Penulisan Skenario berasal dari komunitas film dan mahasiswa perguruan tinggi sejumlah 90 orang yang mewakili komunitas perfilman di Bali. Kabid Apresiasi dan Tenaga Perfilman Pusbangfilm, M. Sanggupri yang memberi sambutan sekaligus membuka workshop menyatakan bahwa peserta tidak hanya berasal dari Bali, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia Timur lainnya seperti Timika, Papua, Maluku, Ternate, NTB dan lain sebagainya. Kegiatan workshop perfilman ini menghadirkan narasumber praktisi film, sineas, dan akademisi perfilman yang kompeten di bidang perfilman.

Workshop perfilman tingkat dasar ini adalah pengejawantahan dari satu program Pusbangfilm, yaitu peningkatan kompetensi teknis tenaga perfilman. Pusbangfilm berharap agar kegiatan workshop ini mampu memberikan manfaat signifikan dalam meningkatkan kompetensi tenaga perfilman dalam hal keterampilan di bidang sinematografi, penulisan skenario, dan penyutradaraan sehingga kuantitas serta kualitas film di Indonesia semakin meningkat.

Beberapa di antara materi yang disampaikan mencakup seluk beluk perfilman, pengenalan film, mengolah ide, penulisan skenario, sinematografi, penyuntingan, artistik hingga peluang bisnis dan kiat-kiat untuk mendapatkan keberhasilan di industri film.

Selain pemaparan dari narasumber, di dalam workshop, terdapat diskusi interaktif dan pemaparan dari para insan perfilman Indonesia. Beberapa pembicara dalam workshop antara lain Christine Hakim dan Dewi Umaya cukup mendapat antusiasme tinggi dari peserta workshop.

Christine Hakim memberi motivasi pada peserta workshop perfilman dengan materi bertema Film sebagai media pembangun karakter bangsa. Christine menyampaikan bahwa banyak orang yang terjun ke dunia film hanya untuk menjadi terkenal, hal ini sah-sah saja tapi sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tujuan dalam berkecimpung di dunia film.

Di samping itu, Christine juga menekankan bahwa untuk menjadi pekerja film dibutuhkan proses belajar secara terus menerus. Menurutnya, untuk membuat suatu karya yang baik, butuh kepekaan untuk menyerap rasa. Oleh karena itu, pembuat film harus memiliki pikiran dan hati yang terbuka.

Workshop perfilman yang dilansungkan di Bali selama enam hari berjalan lancar diiringi antusiasme peserta workshop. Meskipun demikian, masih banyak anggota komunitas perfilman dan sineas-sineas muda lain yang sangat mengharapkan bisa meningkatkan kemampuan melalui kegiatan workshop perfilman yang dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan Perfilman. Peserta workshop juga berharap, agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan di masa mendatang dan bisa diperuntukkan bagi lebih banyak lagi kalangan.

Penulis: Carisya Nuramadea Editor: Marlina Yulianti