Program


PROGRAM PUSBANG PERFILMAN

Undang-undang RI Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman mengamanatkan masalah perfilman dikelola oleh Kementerian yang bertanggungjawab di bidang Kebudayaan. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri membentuk pusat baru di bawah Sekretariat Jenderal bernama Pusat Pengembangan Perfilman.

Dalam memberikan layanan maksimal kepada dunia perfilman nasional, Pusat Pengembangan Perfilman melaksanakan pelayanan seluas-luasnya kepada masyarakat perfilman pada lingkup:


A. Pengembangan perfilman di dalam negeri;

    Di dalam negeri, Pusat Pengembangan Perfilman membangun ekosistem perfilman agar menjadi lebih sehat, berimbang, disukai, hingga berharap film Indonesia menjadi raja di negeri sendiri. Orientasi dan harapan Pusat Pengembangan Perfilman ini direalisasikan melalui beberapa program tahun ini:
    1. Pembangunan komunikasi antar pemangku kepentingan perfilman di Indonesia. Selain terdapat keterkaitan erat dengan instansi pemerintahan lain seperti Badan Ekonomi Kreatif, Lembaga Sensor Film, juga dinas-dinas pemerintah daerah, Pusat Pengembangan Perfilman menjalin hubungan kerja dengan masyarakat, baik melalui Badan Perfilman Indonesia, maupun asosiasi-asosiasi perfilman yang tumbuh di negeri ini. Pada program tahun 2015, dan diproyeksikan tahun 2016, Pusat Pengembangan Perfilman memanfaatkan Program Dialog Para Pemangku Kepentingan dengan melibatkan sedikitnya 200 orang pakar dan praktisi film dalam memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka menyiapkan Renstra Pusat Pengembangan Perfilman.

    2. Dialog Perfilman Indonesia 2015


    3. Pendidikan dan pelatihan Insan Film. Program ini dilaksanakan melalui berbagai pelatihan dan pemberian beasiswa pendidikan. Sasaranya terdiri atas insan film senior hingga pemula yang jumlahnya terus dikembangkan, baik pada ranah komunitas film maupun usaha atau industri perfilman. Penjenjangan kompetensi SDM dimulai dari tingkat dasar hingga event-event pelatihan tingkat internasional. Sosialisasi program ini memerlukan keikutsertaan masyarakat luas agar semakin mengenal pentignya kehadiran film serta memandang dunia film sebagai salah satu peluang pendidikan dan pembudayaan nilai-nilai bangsa.
    4. Fasilitasi masyarakat dalam meningkatkan kegiatan dan produksi perfilman. Berbagai komunitas perfilman Indonesia saat ini memiliki kegairahan cukup tinggi dalam memproduksi, mempromosikan, mengapresiasi, meningkatkan mutu, dan mengembangkan segala upaya untuk memajukan perfilman nasional. Pusat Pengembangan Perfilman berperan aktif dalam membangun ekosistem itu agar lebih maju dan berkualitas. Beberapa agenda yang sudah berjalan di tahun 2015 hingga 2016 antara lain adanya program dukungan financial maupun non finansial. Misalnya penyediaan sarana dan prasarana dukungan pengembangan variasi produksi film, baik komersial maupun non komersial. Ada pula dukungan dalam berbagai paket pengembangan film untuk hampir keseluruhan jenis film: panjang, pendek, dokumenter, animasi, dll.


    5. Bahkan dicanangkan adanya fasilitas one stop syuting. Panji Semirang
      Salah satu produksi film animasi yang memperoleh dukungan dari Pusbangfilm


    6. Penumbuhan rasa cinta oleh masyarakat, semangat menghargai dan mengapresiasi karya sineas film-film dalam negeri, terutama melalui:

      • Kampanye: Ayo Nonton Film Indonesia. Ini dilakukan melalui berbagai media, antara lain iklan layanan masyarakat melalui media online dan publikasi.
      • Pembelian Right Film berupa hak sewa tayang (selama 3 tahun masa tayang) film-film Indonesia inspiratif, mendidik, dan menumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk di tonton, didiskusikan dan diapresiasi masyarakat.
      • Digitalisasi dan restorasi film Indonesia untuk memudahkan pengarsipan dan mengapresiasi film-film Indonesia yang telah diproduksi sejak awal kemerdekaan.

        ![Film Indonesia yang telah diproduksi sejak awal kemerdekaan](http://pusbangfilm.kemdikbud.go.id/static/media/thumbs/node/img/small_21c69d0a5c090c0dc982cb8baf0b736b.jpg "Film Indonesia yang telah diproduksi sejak awal kemerdekaan")

      • Penyelenggaraan berbagai Festival film di Pusat dan daerah. Terutama adalah penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) dan Apresiasi Film Indonesia (AFI), bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia. FFI merupakan perhelatan akbar penganugerahan sineas film atas karya-karya terbaik mereka. Sedangkan AFI merupakan ajang penghargaan film-film terbaik.

        ![Sambutan Mendikbud pada Malam Penghargaan FFI 2015](http://pusbangfilm.kemdikbud.go.id/static/media/thumbs/node/img/small_fe742ae8112d9898018b2657b87a87c3.jpg "Sambutan Mendikbud pada Malam Penghargaan FFI 2015")

      • Penambahan layar film melalui penyediaan kesempatan menonoton film Indonesia di seluruh pelosok tanah air, pengembangan studio mini di sekolah, pemanfaatan mobil film keliling, storage film pendidikan melalui online, dan lain-lain, merupakan upaya membantu pemasyarakatan film Indonesia melalui ketersediaan layar. Dunia film Indonesia pada saat ini diindikasi memiliki jumlah bioskop yang terbatas, sehingga penambahan layar menjadi hal penting. Ada program nonton bareng film Indonesia di tahun 2016 ini yang diproyeksikan dapat melibatkan 10. 000 penonton masyarakat bawah.

    7. Pengutamaan film Indonesia, serta kesadaran memfilter dan menumbuhkan film-film positif yang dapat membangun karakter bangsa Indonesia. Ini terutama dilakukan melalui peringatan Hari Film Nasional setiap tahun. Juga didukung dengan koordinasi intensif dengan LSF, berikut aturan mengenai umur dan jam tayangan, regulasi bioskop, serta program literasi film.
    8. Layanan informasi jumlah penonton bioskop. Pusbangfilm merencanakan sejumlah regulasi dan penyediaan fasilitas pengembangan bidang eksibisi dengan beberapa agenda. Terutama pembangunan system pelaporan penonton bioskop secara terintegrasi.
    9. Regulasi kepada pihak asing. Pusat Pengembangan Perfilman mengatur peran dan/atau kedatangan pihak asing dalam hal perfilman, baik menyangkut impor film, diplomasi budaya oleh perwakilan negara asing, hingga minat pihak asing dalam berinvestasi bidang perfilman maupun pengambilan lokasi Indonesia sebagai lokasi syuting.

      Produser film asing berbondong-bondong ke Indonesia untuk menjadikan Negara ini obyek syuting ataupun lokasi pembuatan film.


      Film Eat Pray Love


    10. Pembangunan kesadaran semua pemangku kepentingan untuk bersama-sama malaksanakan UU No 33 secara konsekuen, saling menguatkan, serta memiliki visi jauh kedepan. Penyelesaian regulasi di bawah UU No 33/2009 merupakan salah satu program prioritas Pusat Pengembangan Perfilman di tahun 2016 ini.


    B. Promosi film Indonesia keluar negeri

      Kemajuan film yang memberi sumbangan besar kepada beberapa negara, baik dari segi ekonomi maupun diplomasi, menginspirasi banyak Negara lainnya, termasuk Indonesia, untuk melakukan kompetisi bidang film dalam rangka merebut pasar dan pengaruh budaya. Pusat Pengembangan Perfilman mendorong produksi film-film generasi bangsa untuk ikut serta di dalam percaturan itu melalui:
      1. Penjualan film Indonesia dalam Pasar film internasional;
      2. Keikutsertaan sineas Indonesia dan kerjasama dalam berbagai festival dan event internasional;
      3. Co-production antar produsen dalam dan luar negeri; dan
      4. Pekan film Indonesia di luar negeri untuk ajang iklan dan diplomasi budaya.


      Suasana Indonesia BoothSuasana Indonesia BoothSuasana Indonesia BoothSuasana Indonesia Booth Suasana ketika Indonesia membuka Booth untuk layanan film market diberbagai ajang festival film di luar negeri.


      Dalam berbagai ajang perfilman dunia, terutama festival film internasional, Indonesia ikut ambil bagian untuk tujuan-tujuan di atas. Memang ada indikasi persaingan sangat ketat film-film yang memenuhi pasar di luar negeri, namun keikutsertaan Indonesia dalam berbagai event internasional tersebut tetap menjadi tantangan. Selain karena beberapa film bermutu tinggi dari Indonesia sering masuk dalam nominasi, menjadi unggulan, bahkan pemenang, undangan luar negeri kepada sineas untuk ikut dalam ajang festival, juga merupakan kesatuan paket dengan dorongan memasarkan industri film Indonesia yang secara nyata menjadi kebutuhan.


      mengangkat tangan saat menjuarai festival film pendek

      Wregas Bhanuteja Sutradara Film ‘Prenjak, In the Year of Monkey’ mengangkat tangan saat menjuarai festival film pendek La Semaine de la Critique de Cannes 2016. Kru Film Prenjak juga menerima penghargaan dari Kemendikbud berupa beasiswa pendidikan.


      Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai ajang internasional menunjukkan eksistensi dan keterlibatan Indonesia dalam keramaian komunitas perfilman dunia, bahkan masyarakat dunia secara umum yang berimplikasi besar baik di ranah sosial, politik, ekonomi, maupun ranah lainnya. Dengan membandingkan Indonesia dari negara-negara Asia lain setidaknya Indonesia dalam waktu dekat seyogyanya pantas diharapkan menjadi tamu mempesona di Asia dan dunia.


      Pusat Pengembangan Perfilman

      Menjadikan film Indonesia raja di negeri sendiri menjadi tamu mempesona di negara lain

      Tiga dari Banyak Film Indonesia