Peluncuran Festival Film Indonesia (FFI) 2018

2018-10-01 13:07:29

FFI MEMASUKI BABAK BARU

 

Jakarta, 1 Oktober 2018. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1955, Festival Film Indonesia (FFI) digagas sebagai barometer perkembangan kualitas perfilman Indonesia. Melalui berbagai penghargaan yang diberikan, publik dan kalangan perfilman sendiri bisa membaca pencapaian terbaik yang dihasilkan pekerja film tanah air selama setahun terakhir.

Dalam perkembangannya dari tahun ke tahun FFI menghadapi banyak tantangan, namun dari waktu ke waktu pula penyelenggaraan FFI terus diperbaiki. Untuk mengembalikan gagasan awal penyelenggaraan FFI tersebut, pada waktu-waktu tertentu, khususnya ketika perubahan atau perkembangan situasi memerlukan, dibutuhkan perbaikan yang lebih strategis atau paradigmatik

Mulai tahun ini FFI akan memasuki babak baru. Dari semula program penghargaan tahunan, FFI kini menjadi sebuah entitas yang beroperasi sepanjang tahun dan kerjanya berfokus pada usaha-usaha meningkatkan kualitas film Indonesia untuk memperkuat sisi budaya dan estetika film.

Melalui Surat Keputusan (SK) Ketua Umum BPI, telah dibentuk Komite FFI (Festival Film Indonesia) dengan masa kerja tiga tahun (2018-2020). Komite FFI diketuai Lukman Sardi dengan anggota pengurus: Catherine Keng (Sekretaris), Edwin Nazir (Keuangan & Pengembangan Usaha), Lasja F. Susatyo (Program), Nia Dinata (Penjurian), dan Coki Singgih (Komunikasi).

Komite FFI akan menjadi entitas baru, melengkapi entitas yang sudah lebih dahulu ada, untuk bersama-sama melakukan pemajuan perfilman Indonesia. Sebagaimana diketahui, sudah ada Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud (pembinaan), Badan Ekonomi Kreatif (pengembangan ekosistem), Lembaga Sensor Film (perlindungan masyarakat), Badan Perfilman Indonesia (peran serta masyarakat), lembaga pendidikan (kajian dan pendidikan), asosiasi profesi (peningkatan profesionalisme), komunitas (pengembangan potensi masyarakat), bioskop/ruang putar (distribusi), media (apresiasi dan promosi), LSP Kreator Film (sertifikasi kompetensi), Akatara (pembiayaan perfilman), Komisi Film Daerah (layanan syuting), dan lain sebagainya.

“Sebagai entitas yang berfokus dan bertanggung jawab dalam peningkatan kualitas, keberhasilan Komite FFI hanya dapat dicapai melalui kolaborasi keahlian dan sumber daya dengan entitas dan pemangku kepentingan lain. Dalam penyelenggaraan program penghargaan Piala Citra, misalnya, kami merangkul mulai dari Pusbang Film, Bekraf, LSF, BPI, asosiasi profesi, komunitas, lembaga pendidikan, dan media. Semua program FFI pun akan dibiayai bersama oleh semua unsur pemerintah serta mitra swasta yang mempunyai perhatian dan kepentingan sama,” jelas Lukman Sardi.

Di samping program tahunan penghargaan Piala Citra, Komite FFI akan menjalankan berbagai program, antara lain kanonisasi film Indonesia, pelatihan tingkat pakar (master class), kolaborasi komunitas, literasi dan apresiasi publik, dan lain-lain.

Perbaikan paradigmatik lain juga sudah dirintis tahun lalu dalam penjurian penghargaan Piala Citra. Pada FFI 2018 platform baru itu akan dilanjutkan dengan beberapa perbaikan. Salah satunya, pada kategori film cerita panjang, film yang dinilai sudah harus memiliki STLS (surat tanda lulus sensor) dari LSF.

Sebagaimana tahun lalu, penjurian dilakukan dengan visi merumuskan secara jelas karya dan kerja artistik dengan pencapaian tertinggi yang diinginkan dan hendak dipromosikan atau didorong untuk lebih banyak dibuat dan dikerjakan.

Penjurian menjadi sebuah sistem yang mampu menetapkan secara tepat film dan kerja artistik yang seharusnya dijadikan tolok ukur pada masanya. Tiga kriteria yang digunakan sebagai dasar penilaian adalah gagasan dan tema, kualitas estetika, serta profesionalisme. Untuk mewujudkan hasil terbaik dari sistem tersebut, penjurian melibatkan partisipasi aktif asosiasi profesi dan komunitas melalui proses seleksi internal. Bentuk penjurian ini dimaksudkan juga agar ke depannya terjadi penguatan kelembagaan serta profesionalisme asosiasi profesi dan komunitas yang ada.

Penetapan nominasi dilaksanakan melalui rekomendasi asosiasi profesi dan komunitas. Sementara pemilihan pemenang dilakukan oleh perwakilan yang ditunjuk asosiasi profesi dan komunitas ditambah 10 juri mandiri. Sebagai pekerja dan pegiat yang aktif dalam lingkungan produksi, para penilai/juri dari asosiasi profesi dan komunitas dianggap mampu memahami secara baik setiap detail dari setiap unsur yang dinilai serta mengetahui trend mutakhir perfilman dunia.

Tahapan penjurian oleh asosiasi profesi dan komunitas akan berlangsung 2-25 Oktober 2018. Pengumuman nominasi direncanakan 6 November 2018. Selanjutkan pemenang Piala Citra FFI 2018 diumumkan dalam Malam Anugerah pada Desember 2018. Sebagaimana sebelumnya, seluruh proses penjurian dilakukan di bawah pengawasan konsultan publik independen, Deloitte Consulting.

 

Contact Person:

Catherine Keng

08111 042 314

catherine.keng@nsr.co.id

Tags
Paling Populer
img
2018-08-16 16:35:11
Terbaru
img img img img img img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img
  • img